Ada beberapa alasan mengapa sebagian guru terlihat “tidak peduli” terhadap sekolahnya. bukan karena mereka benar-benar tidak acuh atau lepas tanggung jawab, tetapi lebih fakta yang mereka alami.
1. Kelelahan dan kejenuhan (burnout)
Rutinitas yang sama, beban administrasi yang menumpuk, tuntutan yang terus datang—lama-lama bisa membuat guru lelah secara fisik dan mental. Ketika sudah lelah, kepedulian bisa menurun, bukan karena tidak mau, tapi karena sudah “habis tenaga”.
2. Merasa tidak dihargai
Guru yang merasa usahanya tidak pernah diapresiasi, sering disalahkan, atau dibanding-bandingkan, bisa kehilangan semangat. Lama-lama muncul perasaan:
“Untuk apa peduli, kalau tetap tidak dianggap?”
3. Lingkungan kerja yang tidak sehat
Jika suasana sekolah penuh konflik, kurang kerja sama, atau tidak ada dukungan dari pimpinan, guru cenderung menarik diri. Mereka memilih “cukup menjalankan kewajiban” daripada terlibat lebih jauh.
4. Kepemimpinan yang kurang menginspirasi
Kepala sekolah yang terlalu menekan, tidak adil, atau tidak memberi contoh yang baik bisa mematikan semangat guru. Kepedulian sering tumbuh dari keteladanan.
5. Masalah pribadi atau ekonomi
Tidak semua guru datang ke sekolah dalam kondisi baik-baik saja. Ada yang sedang menghadapi masalah keluarga, tekanan ekonomi, atau kesehatan. Hal ini bisa memengaruhi sikap mereka di sekolah.
6. Hilangnya idealisme
Dulu mungkin mereka sangat semangat. Tapi seiring waktu, realita yang tidak sesuai harapan (misalnya soal kesejahteraan, sistem, atau birokrasi) bisa membuat idealisme memudar.
7. Tidak merasa memiliki (sense of belonging rendah)
Jika guru tidak dilibatkan dalam pengambilan keputusan atau merasa “hanya pelengkap”, maka rasa memiliki terhadap sekolah juga ikut hilang.
Intinya:
Guru hanya perlu
Diapresiasi
Diberikan lingkungan yang sehat
Diberika dukungan, bukan hanya tekanan.
